Senin, 15 Juli 2019

Belajar Sejarah Bukan Sekedar Mengenang Peristiwa Saja





Sejarah bukan hanya rekaman peristiwa pada masa tertentu yang tanpa makna. Jika ada orang berpandangan bahwa sejarah hanyalah peristiwa masa silam yang tidak perlu diingat-ingat, maka ini tentu sangat disayangkan. Karena jelas bertentangan dengan al-Qur’an dan Hadits yang mengajarkan kepada kaum Muslimin untuk mengambil pelajaran dari peristiwa yang telah lewat.

Dan orang berpandangan seperti ini jelas akan merugi, karena betapa banyak faidah yang bisa dipetik oleh orang yang mempelajari sejarah. Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu, seorang Sahabat Rasulullah saw mengungkapkan, “Orang yang berbahagia (beruntung) adalah orang yang mengambil nasehat (pelajaran) dari (peristiwa yang dialami) orang lain.” (HR. Muslim, no. 2645)

Terlebih jika sejarah itu berkaitan dengan masa depan agama yang menjadi kunci kebaikan dunia dan akhirat, maka tentu memahaminya akan menjadi semakin penting. Betapa tidak, dengan memahami sejarah dengan baik dan benar, kaum Muslimin bisa bercermin untuk mengambil banyak pelajaran dan membenahi kekurangan atau kesalahan mereka guna meraih kejayaan dan kemuliaan dunia dan akhirat.

Namun tidak semua kisah ataupun sejarah yang berkaitan dengan agama bisa diterima begitu saja, perlu ada penelitian tentang kebenarannya. Oleh karena itu, sebaik-baik sejarah yang dapat diambil pelajaran dan hikmah berharga darinya adalah kisah-kisah tersebut disamping sudah terjamin kebenarannya, juga bersumber dari wahyu Allah Swt yang maha benar, serta kisah-kisah tersebut memang disampaikan oleh Allah Swt untuk menjadi pelajaran bagi orang-orang yang berakal sehat.

Allah Swt berfirman:
Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka (para Nabi dan umat mereka) itu terdapat pelaran bagi orang-orang yang mempunyai akal (sehat). al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, serta sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Yusuf/12:111)

Artinya: kisah-kisah yang  menggambarkan keadaan para Nabi dan umat mereka tersebut, serta yang menjelaskan kemuliaan orang-orang yang beriman dan kebinasaan orang-orang kafir yang mendustakan seruan para nabi, berisi pelajaran  bagi orang-orang yang beriman untuk memantapkan keimanan mereka dan menguatkan ketakwaan mereka kepada Allah Swt dengan menjalankan  perintah-Na dan menjauhi larangan-Nya.” (Lihat kitab Aisarut Tafaasir (2/236)

Syaikhul Islam Muhammad bin ‘Abdul Wahhaab rahimahumullah menjelaskan bahwa diantara manfaat memahami kisah-kisah tersebut adalah bisa menjadi sebab untuk meraih ridha Allah Swt. beliau berkata, “Termasuk hal yang paling jelas (manfaatnya dalam kebaikan) bagi orang-orang (beriman) yang memiliki pemahaman (yang benar) adalah (merenungkan) kisah-kisah orang yang terdahulu maupun orang-orang jaman sekarang, (yaitu) kisah orang-orang yang taal kepada Allah Swt dan kemuliaan yang diberikan Allah Swt kepada mereka,  serta kisah orang-orang yang durhaka kepada-Nya dan kehinaan yang ditimpakan Ilah kepada mereka.